Laman

Kamis, 10 Februari 2011

Bukan Malam Ini

Dalam setiap malam yang kujelajahi
Dalam setiap kelam yang kusibak
Tak kutemukan detak senyummu
Dalam kelam dengan gemeletuk di gerahamku
Kutebas ranting malam yang menempel pada sela-sela jendela kamarku
Tak ada sedikitpun hembusan senyummu
Malam ini cukup dingin
Dan jalan penuh kerikil
Mungkin malam esok kutemukan rautmu

Aku dan Ingatan Kecilku

Masih ingatkah kau akan sore yang selalu tertawa?
Sore yang selalu penuh dengan langkah-langkah pulang kerjamu
Dan sedikit beban ayunan pada kaki kokohmu
Lalu bagaimana dengan sedikit gendongan pada bahu kekarmu?
Dan pelukan erat tangan kecil pada punggungmu
atau gelak tawa mungil yang selalu meniru gelak tawa besarmu

Aku dan Bayanganku

Berjalan melintasi gelap dan mengajak bayanganku berbicara
“Apakah kau takut akan gelap?”
Kenapa kau tak menjawab? Kau selalu memilih diam dan memekat
Ah, kau kan dulunya gelap yang menjadi pekat lalu menjadi bagian dari diriku
“Layakkah kau takut pada gelap?”

Tentang Seorang Anak yang Ingin Menjadi Penulis Besar yang Sedang Diam Tak Punya Ide Pada Sebuah Kamar yang Sepi

Sebentar terdiam
Sebentar tersenyum
Sebentar menulis

Tak Ada Pagi

Jangan pergi…
Hanya itu kata yang kuucapkan namun kau tetap pergi
Masih terukir jelas dalam pahatan otakku bagaimana kau datang bersama dengan segala keindahan yang membuat malamku tak pernah pekat
Kamu siapa?

Sabtu, 15 Januari 2011

Peluh Makna


Jam selalu dan pasti berputar
Namun waktu enggan habis
Hanya umur yang berjalan seiring bayangan
Otak selalu berfikir
Namun tubuh takkan selalu menurut
Otak hanyalah otak

Bayi Mentari


Kriinggg, kriiinnggg
Segera pulang, ayah hidup lagi, dia hanya ingin bertemu dengan kalian.